Melawan Arus; Geliat Para Nelayan di Pantai Selatan Nanga Pa’ang-Iteng


Oleh: Valensius Onggot

Ombak di pantai selatan semua sama. Hanya karang, pasir dan bebatuan saja yang mampu menahan gempurannya. Namun ternyata gemuruhnya dapat mendinginkan hati. Itu kalau anda berdiam diri sejenak, menikmati iramanya.

Namun, melihat anak-anak pantai yang lagi asyik bermain dengan ombak, saya yang dari gunung hanya bisa menggelengkan kepala. Mungkin urat-urat dalam tubuh mereka sudah sekuat batu karang.

Itu yang sempat terlihat beberapa waktu lalu di lokasi pantai selatan Nanga Pa’ang, Kecamatan Satar Mese-Manggarai.

Saya pun jadi menikmati desiran ombak tersebut bersama Armin Bell, yang seorang penulis itu. Yang telah melahirkan banyak tulisan menarik dan enak dibaca. Yang cerita-ceritanya dapat kita nikmati dalam kumpulan Cerpen “Perjalanan Mencari Ayam”. Yang cara penuturannya unik dan gurih untuk dinikmati. Tentu saja, satu lagi, yang ganteng itu......

Tentang ganasnya ombak, saya pun bertemu dengan seorang anak muda. Pak Sumanto. Pria anak pantai, asli dari wilayah itu. “Ini belum apa-apa, Pak. Masih ada yang lebih. Hampir di semua musim. Di sepanjang tahun,” katanya.

Saya hanya bisa memandangi perahu-perahu yang hilang muncul dipermainkan ombak. Sebuah kapal kecil dari jarak jauh terseret-seret ke bibir pantai. Asap dari ruangan mesin mengepul; ternyata untuk mengambil haluan.

Kita yang dari gunung, hanya bisa menyaksikan. Betapa ikan yang dibeli di pasar Inpres Ruteng didapat dengan susah payah. Bahkan orang menyebut, Pasar Ruteng adalah "laut" yang sesungguhnya. Karena semua jenis ikan ada di sana.

Dari tempat kami menikmati pantai, sebuah gedung tempat penjualan ikan milik Pemkab pun sepi. Hanya dijadikan tempat bermain oleh beberapa orang anak. Tak ada riuh para pedagang sebagaimana di Pasar Ikan Ruteng. Para penjual ikan lebih memilih menepi di sudut jalan kecil menuju pantai. Mereka hanya menjual dua jenis ikan; Ikan Tongkol dan Ikan Cakalang.

“Kami sudah terbiasa dengan ombak tinggi, Pak. Kalau orang bilang susah, ya susah. Tergantung!,” lanjut Sumanto.

Ketika ditanya soal banyaknya hasil tangkapan ikan, Sumanto menjawab seadanya. “Tergantung juga, Pak. Tergantung rejeki. Bisa dapat banyak, bisa juga tidak ada tangkapan sama sekali,” lanjutnya.

Sebagai orang yang mengadu nasib di kota, kondisi ini sangat berbeda. Musim sekarang, ikan bahkan melimpah ruah. Kalau ke Pasar Ikan, kita bisa temukan para penjual ikan menyodorkan barang jualannya sepanjang jalan menuju pasar. Dugaan kita pun tidak meleset, ikan membeludak. Disuplay dari beberapa wilayah, Labuan Bajo, Reo, Borong, Iteng dan bahkan dari daerah lainnya seperti dari Maumere.

Sambil bercerita dengan Sumanto, saya terus menyaksikan hilang munculnya kapal motor dan perahu para nelayan. Armin Bell pun sama, terus menyaksikan ganasnya ombak. Mungkin lagi merenung dengan perjalanan ceritanya, yang akan dituangkan dalam tulisan-tulisannya nanti.
Berpose dengan anak-anak di lokasi pasar ikan
Pada bagian lain, ada pengunjung yang berselfi ria dengan kameranya, termasuk orang-orang Humas Pemkab Manggarai yang akan ikut dalam acara berbuka puasa bersama umat muslim di lokasi tersebut.

Lokasi Nanga Pa’ang ini, sebagian besarnya umat muslim. Lokasi ini terus dipakai setiap tahun untuk melaksanakan buka puasa bersama dengan Pemkab Manggarai.

“Ini cara kita membangun tali silaturahmi. Kita ini adalah satu saudara,” kata Wabup Victor Madur dalam acara buka puasa bersama di sana.

Soal buka puasa bersama ini, menjadi agenda rutin Pemkab Manggarai. Namun yang paling penting adalah semangat silaturahmi dengan masyarakat nelayan. Masyarakat penyuplai ikan.

Dan kami hadir di sana itu untuk ikut membagi-bagi sukacita dengan sesama saudara umat muslim. Bahwa bulan ramadhan ini adalah bulan penuh berkah yang harus dijalankan dengan penuh sukacita. Kata Wabup Victor Madur pada saat itu.

Kegiatan ini menjadi arena membangun semangat toleransi yang telah terpelihara sejak lama. Saling menjaga kerukunan dengan terus berbagi.

Pak Sumanto, hanya bisa berharap agar keranjang ikan hasil tangkapannya terus mengisi pukatnya. Meski dia agak pesimis bahwa musim begini akan mendapatkan lebih banyak lagi hasil tangkapan ikan.

“Mari kawan, kita pergi berbuka puasa,” ajak saya menyudahi percakapan.

Dan saat itu, saya tidak mendapatkan ikan seekorpun untuk dibeli. Karena katanya, ikan yang dibeli langsung dari pinggir pantai rasanya enak karena masih segar. Sebab sudah lama tidak pernah makan ikan segar. Kebanyakan menggunakan es. Sampai tidak dibedakan mana ikan segar dan mana yang diawetkan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ini Pesan Guru Bagi Orang Tua Siswa; "Anak itu Harta Yang Tak Ternilai "

Meski Dekat Labuan Bajo, Desa Bari Terlupakan dan Terisolasi

Di Balik Rak Buku Perpustakaan Manggarai: Kisah Cohen, Sang Pembelajar Muda