ASN Pakai Songke dan Gerakan Bersama Cinta Produk Lokal Manggarai


By; Valensius Onggot

Hari ini kami tampil dengan wajah baru. Pakaian adat Manggarai dipakai sebagai busana  kerja harian, khusus bagi ASN Lingkup Pemkab Manggarai. Balutan baju berwarna putih dikombinasikan dengan kain songke. Selain itu Destar atau topi menjadi hiasan kepala bagi pria. Sedangkan busana wanitanya menggenakan kain songke dan kebaya serta dipermanis dengan hiasan kepala atau retu

Tampak berbeda memang. Namun ini bukan hal yang sama sekali baru. Pemprov NTT ternyata sudah lebih dahulu menggunakan pakaian adat seperti ini di kantor-kantor pemerintahan sejak tahun 2019 silam. Beberapa Kabupaten lainnya juga sudah memberlakukan hal ini. 

Bagi ASN di Kabupaten Manggarai, hari ini Selasa, 10 Mei 2022 menjadi hari perdana, dengan mengacu pada Surat edaran Nomor 065/52/IV/2022 pada 25 April 2022 lalu.

Dengan menggunakan pakaian adat seperti ini di kantor pemerintahan setidaknya memberi kesan spirit kebaruan dari sejumlah ASN. Tampilan ASN sebagai pelayan masyarakat terkesan berbudaya. Tampak keanggunan dari perempuan Manggarai yang menggunakan asesoris di kepala yang disebut Retu. Beberapa pria tak kalah gagah dengan tampilan busana daerah ini.

Hal ini juga memberi kabar baik bagi para kelompok penenun yang sudah lama mengabdikan dirinya dalam seni tenun baik berjenis Songke maupun kain Todo. Mereka diharapkan mendapatkan sedikit keberkahan dari gerakan bersama menggunakan busana Manggarai ini dalam kerja harian sebagai ASN.

Foto ASN Lingkup Setda Usai Apel Harian

Itu artinya mereka akan terus memproduksi kain tenun Songke tanpa kuatir akan  minimnya permintaan pasar. Dengan demikian tradisi menenun akan tetap terjaga secara turun temurun sebab kain tenunan tersebut merupakan produk dari kebudayaan. Niscaya nilai-nilai budaya tetap lestari. Sebab kain tenun itu hasil karya, olahan rasa dari seseorang atau kelompok tertentu yang merupakan produk kebudayaan dan peradaban leluhur. Dengan demikian di dalamnya ada karya intelektual manusia yang mesti dilestarikan.

Bagi saya, para penenun itu adalah seniman-seniman penjaga tradisi budaya dan warisan leluhur yang juga butuh membiayai hidup agar proses berkarya tetap terjaga. Mereka telah mempertaruhkan hidupnya untuk sebuah kreativitas yang tanpa batas. Hal ini bisa terlihat dari banyaknya motif-motif kain adat songke yang bervariasi sesuai dengan makna dan peruntukannya.

Setidaknya ada banyak kelompok tenun di bawah binaan Dekranasda atau Dewan Kerajinan Nasional Daerah  Manggarai dan Dinas Perdagangan Manggarai. Gedung pameran hasil tenun itu juga telah disiapkan. Tentang  hal itu sejumlah apresiasi pun datang dari banyak pihak untuk aktivitas dan produk tenunan khas Manggarai.

Dengan saya menggunakan pakaian adat seperti ini, saya merasa berbudaya. Karena itu, berbudaya semestinya dimulai dari diri kita sendiri. Sebagai pilar utama pemerintah dan pembangunan bangsa, ASN juga mesti menjadi agen pendukung/Supporting yang mempromosikan/Promoting budaya kita sendiri. Termasuk hasil kerajinan  budaya dari masyarakat kita sendiri.

Aktivitas menenun kain songke

Dengan kita menggunakannya, maka Ini menjadi komitmen bersama terhadap penggunaan produk kerajinan lokal. Menggunakan baju adat sebagai pakaian kerja merupakan bagian dari upaya meningkatkan ekonomi produk usaha, mikro, kecil dan menengah.

Sebab simbol budaya juga amat penting, kita terlahir dan tumbuh bersama dalam kebudayaan. Jangan sampai kita teralienasi atau kehilangan  bentuk jati diri sebagai mahluk sosial dan juga berbudaya.

Salam berbudaya

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ini Pesan Guru Bagi Orang Tua Siswa; "Anak itu Harta Yang Tak Ternilai "

Meski Dekat Labuan Bajo, Desa Bari Terlupakan dan Terisolasi

Di Balik Rak Buku Perpustakaan Manggarai: Kisah Cohen, Sang Pembelajar Muda