Penerimaan Abu, Prapaska dan Revolusi Spiritual

 

Dok Pribadi di Gereja Katedral Ruteng

Pra-Paskah datang dengan penuh perhatian untuk membangunkan kembali kita, untuk melepaskan kita dari kelesuan." - Paus Fransiskus

Hari ini Gereja Katolik sedunia merayakan hari pertama masa Pra-paska. Dalam tradisi gereja Katolik menyebutnya sebagai hari raya Rabu Abu.

Nama Rabu Abu ini berasal dari pengolesan abu pertobatan kepada para umat beriman yang disertai dengan ucapan "Bertobatlah dan percayalah pada injil". Atau diktum "Ingatlah bahwa engkau adalah debu, dan engkau akan kembali menjadi debu".

Dengan penerimaan Abu ini, umat beriman Katolik memasuki masa beribadah dan berpuasa. Selama 40 hari umat Katolik menjalani masa perkabungan, pertobatan dan menunjukkan sikap merendahkan diri di hadapan Allah.

Masa pekabungan ini disebut juga sebagai ret-ret agung. Disebut demikian karena gereja memberi kesempatan kepada umatnya untuk merefleksikan diri disertai dengan pertobatan batiniah. 

Dalam masa refleksi ini diharapkan agar membawa perubahan dalam sikap dan perilaku sesuai ajaran Kristus. Perubahan itu menyasar sendi kehidupan manusia terutama perubahan batiniah atau spiritual. 

Hal ini saya sebut sebagai moment revolusi spiritual

Kata Revolusi ini diartikan sebagai suatu perubahan yang berlangsung secara cepat dan menyangkut dasar atau pokok-pokok kehidupan. Sedangkan spiritual adalah yang bersifat kejiwaan, kerohanian atau kebatinan. 

Dengan kata lain revolusi spiritual diartikan sebagai suatu perubahan yang cepat atau mendasar terkait kejiwaan atau kerohanian. 

Revolusi spiritual ini disertai dengan kesadaran bahwa kita manusia ini adalah mahluk yang rapuh. Kita ini manusia yang fana yang berasal dari debu dan akan kembali menjadi debu. Dalam kesadaran itulah tugas kita adalah karya pelayanan dan saling melayani.

Hari Rabu Abu ini menjadi awal pembaruan diri dan introspeksi diri, untuk merenungkan hal-hal yang perlu dipertobatkan dan diubah dalam kehidupan kita demi menjadi umat Kristiani sejati. Masa dimana momentum ini untuk mengingat akan ketidakabadian kita dan menyesali dosa-dosa kita.

Di sana ada pengampunan, karena Tuhan itu maha pengampun. 

Selama 40 hari ini, izinkan saya menyingkirkan semua harga diri saya. Biarkan saya mengubah hati saya dan melepaskan semua yang tidak baik dalam diri saya. Biarkan saya mencintai Tuhan dengan semua yang saya miliki.

Selamat menjalani masa ret-ret agung ini. Saatnya untuk merefleksikan dan berbagai rasa terima kasih karena inilah saat dimana kita mengingat pengorbanan terbesar dari Yesus Kristus Sang Juru Selamat. 
Salam dari Ruteng


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ini Pesan Guru Bagi Orang Tua Siswa; "Anak itu Harta Yang Tak Ternilai "

Meski Dekat Labuan Bajo, Desa Bari Terlupakan dan Terisolasi

Di Balik Rak Buku Perpustakaan Manggarai: Kisah Cohen, Sang Pembelajar Muda