Kembali ke Asrama; Nostalgia Lama dan Antar Anak ke Seminari Kisol
![]() |
| Foto: Pose di Lorong Sampio |
Jika kita berbicara tentang pendidikan di Manggarai, nama Kisol akan selalu memiliki tempat istimewa. Bagi saya, Kisol bukan sekadar sebuah titik di peta. Ia adalah rumah yang menempa karakter dan kecerdasan, meski saya hanya sebentar saja di sana.
Menapaki kembali jalan menuju Seminari St. Pius XII Kisol hari ini, ingatan saya terlempar jauh pada sosok visioner yang meletakkan batu pertama tempat ini: Alm. Pastor Leo Perik SVD.
Berkat tangan dingin dan visi beliau, sekolah ini berdiri dan bertransformasi menjadi mercusuar pendidikan yang melahirkan banyak Pastor dan orang-orang hebat bagi tanah Manggarai.
Perjalanan hari ini terasa berbeda. Kini saya lalui dengan perasaan yang baru: seorang ayah yang mengantar anaknya kembali ke asrama setelah liburan panjang. Dulu saya yang menapaki lorong asrama ini, kini anak saya yang akan melanjutkannya.
Setibanya di sana, kami para orang tua diajak dalam sebuah pertemuan yang dipimpin langsung oleh Romo Praeses Romo Fery Warman dan para pembina. Dalam pemaparannya, Romo Praeses berbagi data bahwa di tahun 2026 ini, seminari Kisol menampung 472 siswa. Ini adalah bukti nyata kepercayaan masyarakat yang terus terjaga.
Beliau juga dengan haru menyebutkan bahwa hingga saat ini, seminari telah mencetak ribuan lulusan yang kini tersebar dan berkarya di berbagai penjuru termasuk menjadi imam.
Di tengah tantangan dunia pendidikan saat ini, anak-anak di Seminari Kisol justru menunjukkan taringnya.
Ada siswa yang berhasil meraih nilai sempurna 100 untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia pada Ujian TKA (Tes Kemampuan Akademik) beberapa waktu lalu. Begitu pun untuk Matematika, mata pelajaran yang sering jadi momok. Saat rata-rata nasional mungkin terseok di angka 4-an, siswa Seminari Kisol justru mampu mencatatkan angka 5,9.
Prestasi itu pun merambat ke ajang Olimpiade Sains Nasional (OSN), di mana siswa Seminari dari sini melangkah maju ke tingkat provinsi untuk mata pelajaran IPA. Mereka bukan hanya berkompetisi untuk menang, tapi menunjukkan bahwa anak-anak dari daerah pun mampu berdiri sejajar di panggung nasional.
Namun, di balik prestasi dan nilai sempurna itu, para pengelola sekolah dengan rendah hati tidak mengklaim kesuksesan ini sebagai milik sendiri. Mereka menyebutnya sebagai sebuah "capaian" yang melibatkan guru, siswa yang gigih, serta doa dan dukungan orang tua.
Validasi nyata datang dari Kemendikbud yang menobatkan sekolah ini sebagai salah satu dengan kinerja terbaik, baik untuk SMP maupun SMA di Kabupaten Manggarai Timur.
Mendengar pemaparan Romo Praeses dan melihat kembali sudut-sudut asrama, saya jadi merenung. Kisol membuktikan bahwa prestasi bukanlah sebuah kebetulan. Ia adalah hasil dari ekosistem yang dirawat dengan penuh perhatian—mulai dari kedisiplinan hingga pendampingan akademik yang intensif.
Melihat Kisol hari ini, saya tidak hanya melihat sebuah seminari. Saya melihat sebuah harapan yang terus menyala. Bahwa dari tempat yang jauh dari hiruk-pikuk kota besar, pendidikan yang bermutu tetap bisa diwujudkan.
![]() |
Menitipkan anak di sini bukan sekadar urusan menitipkan raga, melainkan menjaga mimpi.
Terima kasih Seminari Kisol, karena meski zaman berganti, semangat yang diwariskan oleh Pastor Leo Perik SVD tetap ada dalam kenangan dan napas kami.
Semoga prestasi ini menjadi pembuka jalan bagi keberhasilan-keberhasilan berikutnya bagi anak-anak kami.



Komentar
Posting Komentar