Jemput Mentari Pagi di Padang Sabana Satar Cewe

 

Dok Pribadi

Cahaya pagi perlahan menyembul dari ufuk timur saat kami tiba di padang sabana Satar Cewe. Aroma basah sehabis hujan semalam masih terasa di puncak bukit itu. Rasa lelah akibat perjalanan jauh pun sirna menyaksikan hijaunya rerumputan di lereng-lereng perbukitan itu.

Tempat spesial ini berada di Kecamatan Sambi Rampas, Kabupaten Manggarai Timur – Provinsi Nusa Tenggara Timur. Lokasi padang sabana Satar Cewe ini berada pada jalur lalu lintas Pota – Watunggong Manggarai Timur.

Letaknya yang tersembunyi di dalam hutan justru menambah keunikan tersendiri. Bagaimana tidak, dari atas ketinggian dan sejauh mata memandang saya bisa menikmati hamparan bukit serta pesona birunya laut Flores di pantai Utara Pota.

Dalam bahasa setempat, Satar berarti padang dan Cewe artinya kuali atau belanga. Penamaan ini mungkin karena padang ini menyerupai kuali ketika dilihat dari kejauhan.

Berada di atas puncak bukit ini sungguh menakjubkan. Saya tak bisa melukiskan-nya dengan kata-kata. Hanya bisa diungkapkan dengan aksara yang terbatas, “luar biasa!”. 


Di tempat ini kita bisa menikmati jejeran bukit-bukti kecil yang ditumbuhi dengan rerumputan berwarna hijau. Pemandangan ini mirip lukisan-lukisan alam dari seniman China tempo dulu.

Hijaunya rerumputan tersebut dikarenakan sekarang lagi musim penghujan. Kata orang sekitar kalau musim kering nanti, rerumputan tersebut berwarna kuning keemasan.

Sebuah pondok sederhana berdiri di atas puncak itu. Bale-bale bambu disiapkan bagi para pengunjung atau para pengguna jalan jalur Wae Kara menuju Pota untuk istirahat sejenak. Di sini pengunjung bisa membeli aneka jajanan atau pun minuman kopi. Dari kejauhan keberadaan pondok ini juga menambah keindahan tempat ini. 

Baca Juga :Nikmati Sunset di Agrowisata "Rumah Ikan" Lao; Inovasi Pertanian dan Wisata Keluarga

Saat kami tiba di tempat itu, sudah ada pengunjung lainnya. Pada umumnya dari wilayah sekitar atau pun para pedagang. Ada yang lagi berswafoto untuk mengabadikan moment spesial itu.

Namun untuk sampai di tempat ini tidaklah mudah. Perjalanan saya dari Ruteng Kabupaten Manggarai menuju Nanga Baras Manggarai Timur memakan waktu 4 jam.

Nah, dari Nanga Baras menuju Satar Cewe membutuhkan waktu tempuh sekitar 45 menit dengan kendaraan Roda Empat. Lamanya waktu tempuh itu karena di beberapa bagian badan jalannya sudah rusak parah yang mengakibatkan sulitnya para pengendara untuk melewati jalur tersebut.

Namun, susahnya perjalanan menuju tempat ini terbayar dengan nuansa keindahan yang luar biasa di Satar Cewe. Selain mengabadikan moment spesial ini, saya juga merenungi bahwa lewat alam yang indah ini Tuhan ingin menyatakan kemahakuasaan-Nya. Dia melukis alam ini dengan keindahan yang sempurna.

Ketika ada orang yang meragukan kemahakuasaan Tuhan, pergilah ke tempat-tempat yang indah termasuk di Satar Cewe ini. Di sana Tuhan akan menyatakan dirinya. Biarkan hati kita terbuka untuk berdialog dengan alam, sebab Tuhan ada di sana. Karena Dia-lah maha cinta itu sendiri.

Dia telah menyediakan yang terbaik kepada  manusia. Tugas kita adalah menjaga alam ini agar tetap menjadi lukisan yang sempurna bagi manusia. 

Selamat menjemput Tahun Baru 2023, Terima Kasih untuk perjalanan tahun 2022.  

Seorang pengunjung menikmati keindahan alam Satar Cewe

 Baca Juga : Terpencil; Pesona Pantai Bari Ibarat Surga Yang Tak Dirindukan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ini Pesan Guru Bagi Orang Tua Siswa; "Anak itu Harta Yang Tak Ternilai "

Meski Dekat Labuan Bajo, Desa Bari Terlupakan dan Terisolasi

Di Balik Rak Buku Perpustakaan Manggarai: Kisah Cohen, Sang Pembelajar Muda